Tampilkan postingan dengan label ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ragam. Tampilkan semua postingan
Sabu, what is it...? jangan berprasangka dulu, Sabu merupakan singkatan Sarapan Bubur , sepanjang pengetahuan selama ini di semarang, ada beberapa genre yang behubungan dengan bubur besar dan assesoriesnya

Bubur yang telah eksis sejak lama, biasanya di jual oleh mbok-mbok atau ibu di perkampungan, biasanya selain menjual Bubur, ada ketan, dan nasi, serta untuk lauknya sambel goreng dan terik,di jual di depan rumah atau pos kampling, namun seiring perjalanan waktu dan banyaknya pendatang ke Semarang, muncul banyak varian model atau genre bubur tersebut, model-model tersebut diantaranya model Simpang 5, biasanya Bubur Ayamnya, di beri aksesoris Krupuk, potongan cakwe, kuah semur, di samping ada sate ayam, jeroan, ati, dan misoa, di semarang cukup banyak di temui di kawasan simpang 5 hingga erlangga

Model Berikutnya Model Jakarta, meskipun sebenernya yang jual kebanyakan orang Pemalang, namun Varian ini juga banyak peminatnya apalagi untuk sekedar sabu, cirinya bubur ini ada kuah kayak kari, krupuk, koro, dan bawang solong, model ini banyak di temui di Tembalang, dan beberapa jalan protokol, seperti jl. kelud raya, Jl. Wr Supratman dsb

kemudian ada Juga Model Bandung Hampir mirip dengan Jakarta, namun dibeberapa tempat ada varian toppingnya seperti jamur, dsb, penjual bubur ini, salah satunya di Jl. Kusumawardani, samping Dinaskertran Prov Jateng

Namun di antara beberapa tempat yang di Kunjungi, mungkin yang paling sering ialah di Jl. Kelud raya, Depan Auditorium UNNES Semarang, meski bergenre Simpang 5an, harga yang di tawarkan relatif murah hanya 6000 rupiah udah termasuk Teh Anget,

pernah makan Burjo ato istilah keren untuk bubur kacang ijo, diperhatikan khususnya di semarang sebenarnya ada 2 genre besar para burjo, berdasar asal pedagang, packaging, penyajian dan pelengkapnya disamping pedagang burjo yang di jual dengan gerobak dorong, atau di pinggul yang menyusuri jalanan dan perkampungan

dua genre besar tersebut ialah KUNINGAN, sebagian besar pedagangnya asli kuningan, biasanya bentuknya kios, atau warung semi permanen, selain menjual burjo dan ketan hitam, juga melayani mie goreng, mie rebus, bubur dan aneka minuman sachetan seperti Milo, Ovaltine, Cappucino, Coffemix, Good Day, dsb, dalam penyajiannya biasanya Bubur Kacang Ijo agak kental, dengan santan di pisah, plus bonus air teh tawar, biasanya berada di dekat pusat kampus sperti yang cukup populer di Jl. Singosari, Bendan, Jl. Kyai Saleh,Jl. Mugas samping UNISBANK

sedangkan Burjo Madura, sebagaian besar pelangganya berasal dari madura, bentuk kiosnya biasanya berupa tenda, dengan cara penyajian Burjo dan santan di campur seperti dibikin kolak, biasanya biar nikmat di tambah es batu yang di gosrok seperti es campur, di beri topping sirup, atau susu kental, di tambah Roti Tawar, burjo ini sering di temui didekat pasar seperti Mangkang, Ngaliyan, dsb

dari kedua genre tersebut sama-sama mempunyai cita rasa mantab, cozy dan cukup ekonomis,hal tersebut mencerminkan pula betapa beragamnya kuliner di negeri ini, dari salah satunya berbahan baku Kacang Ijo

Pernah makan di kucingan atau tertarik makan di kucingan, apabila di amati, tidak hanya musik,yang bergenre,"kucinganpun" mempunyai genre,

"kucingan" merupakan salah satu tempat makan favorit bagi sebagian kalangan baik mahasiswa,remaja atau golongan ekonomi menengah ke bawah,selain asyk sebagai tempat nongkrong dan diskusi, menu dan pilihan "nyamiannya" beragam dengan harga yang relatif murah untuk sekedar nasi bungkus,mie, teh maupun kopi serta gorengan dll, biasanya di sebuah tenda, grobak, kursi dan meja, atau alas tikar di pinggir jalan

dinamakan "kucingan" karena sebelum tahun 2000an, nasi bungkus di tempat itu hanya dua nasi kering dan nasi teri, di lihat dari jumlah nasinya yang sedikit dicampur ama teri seperti makanan kucing,jadi populer disebut "kucingan" meskipun sebenernya banyak nama untuk hal tersebut sperti warung cowby,warung wedang,dsb

setidaknya ada dua genre besar "kucingan" di Semarang, apabila di lihat dari penampilan, menu dan asal daerah pedagang, dua genre tersebut adalah
pertama : Klaten, "kucingan" model ini udah eksis sejak lama, cirinya seperti angkringan di Yogya, Gerobak, di dalamnya ada tungku berbahan bakar arang, diatas ada 3 teko air, untuk air panas, dan jahe, dengan menu nasi bungkus biasanya kering,teri, dan telor,dengan berlentera lampu sentir, biasanya pedagangnya berasal dari daerah sekitar kec wedi kab Klaten, salah satu kelebihanya karena masih munggunakan arang untuk tehnya biasanya rasa khas dan nikmat selain itu juga ada request "Bakaran" sperti kepala,sate usus, dsb, di layani dengan baik, karena suasananya temaram,sehingga menjadi tempat yang enak untuk menghabiskan waktu di malam hari, di semarang cukup banyak di antaranya mas roni, Jl Hayam wuruk, & di depan lapangan SGO

Kedua : Demak, "kucingan"model ini mulai eksis di daerah Johar sebelum menyebar ke seluruh semarang, berbeda dari genre klaten penampilannya untuk gerobak seluruh space di gunakan untuk menaruh nasi bungkus,gorengan, dan makanan kecilnya, sedangkan untuk kompor berbahan bakar Gas atau minyak tanah di taruh di meja kecil lainnya, menggunakan lampu neon sebagai penerangnya, dengan pilihan nasi bungkus yang beragam dan bervariasi dari nasi goreng,nasi babat,ayam gongso, ati, ayam goreng, dsb tentunya dengan lauk porsi yang ala kadarnya, dan biasanya pedagangnya perasal dari sekitar kecamatan Wedung Kab.Demak, kucingan model ini cukup populer, karena menawarkan menu yang beragam dan variasi meskipun lauknya cukup sedikit namun cukup merasakan menu enak dan mewah dengan harga yang relatif murah dan dengan suasana yang terang benderang sehingga membuat sebagian pengujung merasa nyaman, sebagai misal Al Barokah di Jl. Pleburan Barat, depan Swanet, mas Ghofur di kusumawardani,depan Martabak House, Depan kel. Sampangan, Puspowarno, disamping eks biaskop atrium dan tanah mas, cukup populer dan banyak pengunjungnya