Tampilkan postingan dengan label festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label festival. Tampilkan semua postingan

Wedang tahu, namanya mungkin cukup unik, awalnya aq sulit membayangkan Tahunya di bagaimanakan dan rasa sperti apa..?

namun setelah kali pertama mencoba , jujur di luar dugaan, rupanya tahu di bikin seperti bubur cadil yang kemudian di sendokin tipis-tipis, setelah itu dituang air jahe gule merah, dan sruput...sruput mantaf,

dari informasi yang didapatkan bahan dari wedang tahu, adalah susu kedelai rendam kemudian akan mengental,ditambah agar-agar putih, dan gula serta sedikit garam, sedangkan untuk campuran kuahnyagula merah, gula pasir, jahe, daun pandan, daun jeruk, kayu manis, cengkeh, dan garam hingga gula larut dan wangi di rebus kemudian di saring

setahuku tidak banyak yang menjual wedang tahu, salah satunya dapat di temui di SD Bernadus, Kompleks Gereja Katedral Semarang

salah satu yang membuat penasaran di Festival Pandanaran, adalah Nasi Biryani,beberapa kali mendengar tentang kelezatan masakan ini, namun belum pernah mencoba, sebuah kesempatan yang baik pikiriku, untuk langsung mencoba

setelah mencoba rasanya Sip dan mantab,dengan cita rasa yang lebih spicy di tambah tambahan korma,kismis dan sejenis kacang-kacangnya plus daging,di jamin wareg

konon ceritanya nasi biryani, berasal dari bahasa parsi : beryā(n) (بریان) yang berarti goreng atau panggang. Pada zaman dulu, beras digoreng di dalam minyak samin sebelum direbus di dalam air bersama rempah-rempah hingga setengah matang.

seperti umumnya makan khas timur tengah rasa rempah-rempahnya cukup terasa,Rempah-rempah yang dipakai sewaktu memasak biryani, termasuk di antaranya: minyak samin/ ghee, kacang-kacangan,jintan,Cengkeh, kapulaga, kayu manis, daun salam koja, ketumbar, daun mint, jahe, bawang bombay, dan bawang putih

meskipun dari sisi harga cukup lumayan sekitar Rp.15.000 komplit, namun dengan citarasa yang mantab, cukup terpuaskan lah....:)

Nasi Biryani, nasi kebuli atau khas timur tengah lainnya yang biasanya ku kunjungi di Jl. MT Haryono ketika pagi hari, Warung Khoja di Lamper, atau di tlogosari juga ada
Pemkot Semarang tanggal 12-13 Desember ini, mengadakan satu event yang bertujuan untuk mengangkat potensi wisata di kota Semarang, event ini di kemas dengan festival kuliner dan seni budaya,berlangsung di Salah Satu ruas jl. Pandanaran Semarang

cukup menarik mengapa di Jl. Pandanaran, yang selama ini memang telah di kenal oleh khalayak luas sebagai salah satu sentra bisnis dan oleh-oleh khas semarang, memang menurut penuturan pejabat disbudpar, Festival Pandanaran merupakan semacam embrio area walking street,

memang untuk penyelenggaran kali pertama, masih banyak yang perlu dibenahi tentunya, karena Jl. Pandanaran merupakan salah satu Jl. Protokol utama, menurut hemat kami problem tersebut diantaranya.
  • Jumlah stan yang relatif sedikit, memang disadari dengan keadaan Jl. Pandanaran saat ini dimana ada beberapa instalasi penting seperti rumah sakit, perbankan, dan pertokoan serta resto yang selama ini telah populer, sehingga pemanfaatan space stand mempertimbangkan kepentingan para penduduk atau usahawan di Jalan tersebut, akhirnya relatif terbatas, meskipun demikian dari varian peserta stand cukup variatif, di Kuliner misalnya,Hampir semua jenis kuliner ada, meskipun jumlahnya satu dua,namun cukup mewakili, dari kelas Hotel Bintang 3-4, hingga kelas kaki lima ada, dari makanan timur tengah, sampai makanan khas kota semarang juga tersedia, dari resto utama sampai gerobak soto atau tahu gimbal juga ada,selain itu pula ada perbankan, produk-produk kerajinan, hingga stand keagamaan juga tersaji, di selingi dengan lomba-lomba seperti jalan sehat, dan lomba menggambar, serta membatik di tambah performance seni budaya, dari perwakilan agama, daerah, Barongsai,tarian, Gambang Semarang serta peragaan busana menambah meriah festival tersebut
  • Parkir dan Manajemen trafik di area sekitar pandanaran, dan area festival khususnya, yang cukup relatif semrawut,juga perlu diperhartikan kedepanya sehingga pas performance art, tidka diselingi oleh lalu lintas kendaraan meskipun hal tersebut milik warga jl. pandanaran, atau pula pasien dari rumah sakit,
  • Publikasi yang relatif minim, sehingga cukup sedikit wisatawan yang berkunjung., kebanyakan punegujung warga lokal semarang
Hal tersebut tidak terlepas dari persiapan yang cukup minim hanya sekitar 3 minggu, demikian konon ceritanya

Namun, festival tersebut tentunya merupakan usaha yang positif dan dapat di kembangkan serta bisa di jadikan sebagai Agenda Tahunan Dinas Pariwisata Kota Semarang dan Jawa Tengah pada umumnya.


Lanjutgan Gallery photo festival