Tampilkan postingan dengan label imho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imho. Tampilkan semua postingan

pernah makan Burjo ato istilah keren untuk bubur kacang ijo, diperhatikan khususnya di semarang sebenarnya ada 2 genre besar para burjo, berdasar asal pedagang, packaging, penyajian dan pelengkapnya disamping pedagang burjo yang di jual dengan gerobak dorong, atau di pinggul yang menyusuri jalanan dan perkampungan

dua genre besar tersebut ialah KUNINGAN, sebagian besar pedagangnya asli kuningan, biasanya bentuknya kios, atau warung semi permanen, selain menjual burjo dan ketan hitam, juga melayani mie goreng, mie rebus, bubur dan aneka minuman sachetan seperti Milo, Ovaltine, Cappucino, Coffemix, Good Day, dsb, dalam penyajiannya biasanya Bubur Kacang Ijo agak kental, dengan santan di pisah, plus bonus air teh tawar, biasanya berada di dekat pusat kampus sperti yang cukup populer di Jl. Singosari, Bendan, Jl. Kyai Saleh,Jl. Mugas samping UNISBANK

sedangkan Burjo Madura, sebagaian besar pelangganya berasal dari madura, bentuk kiosnya biasanya berupa tenda, dengan cara penyajian Burjo dan santan di campur seperti dibikin kolak, biasanya biar nikmat di tambah es batu yang di gosrok seperti es campur, di beri topping sirup, atau susu kental, di tambah Roti Tawar, burjo ini sering di temui didekat pasar seperti Mangkang, Ngaliyan, dsb

dari kedua genre tersebut sama-sama mempunyai cita rasa mantab, cozy dan cukup ekonomis,hal tersebut mencerminkan pula betapa beragamnya kuliner di negeri ini, dari salah satunya berbahan baku Kacang Ijo

kurangi tidur & perbanyak minum kopi ( Alm Mbah Surip)

kutipan di atas meskipun bukan termasuk tips yang menyehatkan, namun dapat mengambarkan bagaimana sebagaian orang memaknai kopi dan meminumnya menjadi suatu kebutuhan atau bahkan malah menjadi semacam "ritual"

Kopi telah ada di nusantara sejak lama. Di bawa oleh Belanda dengan jalan berliku. Konon diselundupkan via jema'ah haji yang pulang dari Mekah. Kopi yang aslinya berasal dari Ethiopia pertama kali ditanam di Depok. Uji coba pertama kopi nusantara ada yang gagal. Selanjutnya kopi menyebar di Nusantara. Tanah jawa pernah identik dengan kopi. Java nama dagang yang pernah sangat indentik dengan kopi, bahkan merambah ke produk lain. Tapi aura kopinya tidak lepas. Kopi juga ada di pulau lain di Nusantara. Sumatera, dari Aceh hingga Lampung menyediakan kopi dengan cita rasa yang berbeda. Belum lagi Bali, Sulawesi hingga ke Papua.

Budaya minum kopi menjadi sebuah simbol budaya yang berbeda di tempat barunya. Eksotika yang berkesan aristokratik dapat ditemukan dari beberapa cara minum kopi di Eropa dan Timur Tengah

sedangkan di Indonesia, Budaya minum kopi menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi sebagian kalangan, hal ini tercemin dari banyaknya kedai kopi yang berjajar di Jalan Utama hingga jalan-jalan kampung, dengan salah satu gaya khasnya angkat kaki sebelah dan di temani berbatang-batang rokok, menjadi sebuah pemandangan mahfum di Indonesia sambil berbicara ngalor-ngidul. dari Gosip selentingan yang bisa merambah hingga gosip seputar penguasa negeri. Seperti lirik Warkop DKI, "nongkrong di warung kopi, sentil sana dan sini. sekedar suara rakyat kecil, bukannya mau usil"


Lika Liku Kopi Indonesia

Kopi Indonesia saat ini ditilik dari hasilnya, menempati peringkat keempat terbesar di dunia. Kopi memiliki sejarah yang panjang dan memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang socok bagi tanaman kopi. Letak Indonesia sangat ideal bagi iklim mikro untuk pertumbuhan dan produksi kopi, di antaranya yang cukup populer bagi penikmat kopi ialah Kopi Lampung,Kopi Toraja, Kopi Papua, Kopi Kintamani, dsb

Sebagaimana di ketahui Ada dua jenis kopi, yang dihasilkan oleh dua jenis tumbuhan yang berbeda:pertama, Robusta adalah kopi tradisional, dan dianggap paling enak rasanya, Robusta memiliki cita rasa yang lebih tinggi dapat dikembangakan dalam lingkungan di mana Arabika tidak akan tumbuh, dan membuatnya menjadi pengganti Arabika yang murah. Robusta biasanya tidak dinikmati sendiri, dikarenakan rasanya yang pahit dan asam. Robusta kualitas tinggi biasanya digunakan dalam beberapa campuran espresso

Kopi Arabika biasanya dinamakan oleh dermaga di mana kopi ini diekspor, dua yang tertua adalah Mocha dan Jawa. Perdagangan kopi modern lebih spesifik tentang dari mana asal kopi ini melabelkan kopi atas dasar negara, wilayah, dan kadangkala ladang pembuatnya.

Satu jenis kopi yang tidak biasa dan sangat mahal harganya adalah sejenis Arabica dan robusta di Indonesia yang dinamakan Kopi Luwak, Kopi ini dikumpulkan dari kotoran Luwak, yang proses pencernaanya memberikan rasa yang unik. Kopi jenis ini sangat spesial karena Luwak atau Musang secara alamiah memilih biji kopi yang telah masak untuk dimakan. Biji kopi yang tidak tercerna akan keluar bersama feses luwak.

LIfe Style Kopi

Globalisasi telah membantu Indonesia untuk kembali menyadarkan arti penting Kopi, namun impor budaya kopi ini jadi sesuatu yang berbeda. Kopi waralaba dengan kemasan gelas plastik menjadi bungkus modernitas. dari warung tenda, kedai kopi kecil bertanfromasi ke dalam Mall-Mall, dengan di temani fasilitas hotspot sambil berselancar di dunia maya,

Kopi tidak lagi hanya di nikmati masyarakat kelas menengah kebawah, di warung kopi,namun para pelajar, mahasiswa dan eksekutif muda sambil rehat sepulang beraktivitas, untuk sekedar berfacebook-ria,bertwitter-ria, atau sekedar browsing dan chatting, di gerai -gerai kopi yang tumbuh banyak di kota besar di Indonesia

yang menjadi pertanyaan berikutnya, akankah keragaman dan kekayaan cita rasa Kopi dari Indonesia yang telah termasyhur hingga ke manca negara dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri


*di kutip dari berbagai sumber






ada satu pertanyaan kenapa dalam hal makanan khususnya umat muslim harus memperhatikan prinsip halalan & thoyiban?

Dalam ajaran Islam pada prinsipnya makanan yang yang dikonsumsi harus halalan thoyibah. Jadi, makanan tersebut tidak hanya halal dalam arti tidak mengandung zat / jenis makanan yang diharamkan oleh Allah SWT dan Rosululloh SAW. Akan tetapi, makanan juga harus thoyib ( baik). sebagaiman tersurat dalam Al Qur'an :

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Qs. Al-Baqoroh: 168)

sebagaimana KH Qosim Nurzeha dalam ceramah-ceramahnya menerangkan tentang halalan thoyibah sering mengilustrasikan dengan penderita penyakit DM (diabetes mellitus) dalam mengkonsumsi gula. Gula itu halal akan tetapi bagi penderita DM tidak thoyib karena akan mempengaruhi kesehatan, maka konsumsi gula harus dikurangi.

DR. Yusuf Qordhowi dalam bukunya yang berjudul “Halal-Haram dalam Islam” menyatakan bahwa Allah SWT berhak menghalalkan atau mengharamkan sesuatu kepada manusia sebagaimana Allah SWT menentukan tugas-tugas dan ritual-ritual untuk beribadah sesuai dengan kehendak-NYA. Manusia tidak berhak membantah. Itu adalah hak rububiyah Allah SWT sekaligus konsekuensi penghambaan manusia terhadap Allah SWT. Seperti halnya pengharaman khomr sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar* dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (Q.S Al-Baqoroh : 219).

ket :*minuman keras

Berdasarkan keterangan diatas maka sebenarnya makanan yang dihalalkan oleh Allah SWT dapat dipastikan thoyib. Makanan yang diharamkan dapat dipastikan tidak thoyib, meskipun kita tidak boleh memakan makanan halal dan meninggalkan makanan haram hanya karena hikmah yang terkandung dalam aturan Allah SWT. namun juga sebagai pematuhan karena keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Salah satu contoh logika dan ilmiah, Kenapa Islam melarang Darah untuk dimakan, berdasar analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi Kesehatan, karena senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya kita diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni

Dan inilah hikmah dibalik prosedur penyembelihan hewan dalam islam, seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh. hal ini di menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging, yang pada akhirnya mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga menjadikannya beracun

Bagaimana dengan Babi? Babi tidak dapat disembelih di leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi alamiahnya? Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher, disamping itu ilmu kedokteran modern menunjukan indikasi babi sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya, salah,selain itu sistem biochemistry Babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya, yang harusnya di keluarkan.

Hal tersebut juga dapat mengambarkan kenapa kita tak boleh makan bangkai binatang, subhanallah, sungguh besar hikmah di balik sesuatu yang di haramkan oleh Allah SWT, untuk kebaikan dan kesehatan mahluk ciptaanNya


* di ambil dari berbagai sumber

Pernah makan di kucingan atau tertarik makan di kucingan, apabila di amati, tidak hanya musik,yang bergenre,"kucinganpun" mempunyai genre,

"kucingan" merupakan salah satu tempat makan favorit bagi sebagian kalangan baik mahasiswa,remaja atau golongan ekonomi menengah ke bawah,selain asyk sebagai tempat nongkrong dan diskusi, menu dan pilihan "nyamiannya" beragam dengan harga yang relatif murah untuk sekedar nasi bungkus,mie, teh maupun kopi serta gorengan dll, biasanya di sebuah tenda, grobak, kursi dan meja, atau alas tikar di pinggir jalan

dinamakan "kucingan" karena sebelum tahun 2000an, nasi bungkus di tempat itu hanya dua nasi kering dan nasi teri, di lihat dari jumlah nasinya yang sedikit dicampur ama teri seperti makanan kucing,jadi populer disebut "kucingan" meskipun sebenernya banyak nama untuk hal tersebut sperti warung cowby,warung wedang,dsb

setidaknya ada dua genre besar "kucingan" di Semarang, apabila di lihat dari penampilan, menu dan asal daerah pedagang, dua genre tersebut adalah
pertama : Klaten, "kucingan" model ini udah eksis sejak lama, cirinya seperti angkringan di Yogya, Gerobak, di dalamnya ada tungku berbahan bakar arang, diatas ada 3 teko air, untuk air panas, dan jahe, dengan menu nasi bungkus biasanya kering,teri, dan telor,dengan berlentera lampu sentir, biasanya pedagangnya berasal dari daerah sekitar kec wedi kab Klaten, salah satu kelebihanya karena masih munggunakan arang untuk tehnya biasanya rasa khas dan nikmat selain itu juga ada request "Bakaran" sperti kepala,sate usus, dsb, di layani dengan baik, karena suasananya temaram,sehingga menjadi tempat yang enak untuk menghabiskan waktu di malam hari, di semarang cukup banyak di antaranya mas roni, Jl Hayam wuruk, & di depan lapangan SGO

Kedua : Demak, "kucingan"model ini mulai eksis di daerah Johar sebelum menyebar ke seluruh semarang, berbeda dari genre klaten penampilannya untuk gerobak seluruh space di gunakan untuk menaruh nasi bungkus,gorengan, dan makanan kecilnya, sedangkan untuk kompor berbahan bakar Gas atau minyak tanah di taruh di meja kecil lainnya, menggunakan lampu neon sebagai penerangnya, dengan pilihan nasi bungkus yang beragam dan bervariasi dari nasi goreng,nasi babat,ayam gongso, ati, ayam goreng, dsb tentunya dengan lauk porsi yang ala kadarnya, dan biasanya pedagangnya perasal dari sekitar kecamatan Wedung Kab.Demak, kucingan model ini cukup populer, karena menawarkan menu yang beragam dan variasi meskipun lauknya cukup sedikit namun cukup merasakan menu enak dan mewah dengan harga yang relatif murah dan dengan suasana yang terang benderang sehingga membuat sebagian pengujung merasa nyaman, sebagai misal Al Barokah di Jl. Pleburan Barat, depan Swanet, mas Ghofur di kusumawardani,depan Martabak House, Depan kel. Sampangan, Puspowarno, disamping eks biaskop atrium dan tanah mas, cukup populer dan banyak pengunjungnya
Teringat obrolan beberapa masa silam dengan bos yang berkeluh kesah kenapa usaha nya di bidang Hitech di Semarang belum berkembang sesuai harapan, dan teringat pula curhatan seorang rekan yang pada masa itu masih jobseeker, tentang minimnya lowongan perusahaan bonafide di semarang, dan yang menarik jawaban kedua orang tersebut sama ,sambil berkelakar dan sedikit misuh " SEMARANG bangsane urusan tele yo payu"

sebagai anak kost dan beberapa tahun terakhir menghabiskan waktu di jalanan kota semarang dan sekitarnya, tentunya ketergantungan akan masakan mbok, mbak atau bapak2 di luar sono menjadi kebutuhan utama, seiring berjalannya waktu makan tidak hanya kebutuhan untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga namun terkadang ada hal yang lebih dari sekedar itu seperti asyiknya mencari dimana tempat makan yang pas di kantong (baca : Murah), bercita rasa tinggi dan cozy

apabila melihat perkembangan jaman, Semarang dalam urusan perut cukup berkembang pesat, pada masa sebelum 2000an, masih sedikit food court dan tempat makan, demikian piula dari sisi variasi menunya pun relatif masih sedikit, masih standart dan belum di kemas secara menawan dan inovatif,

Dulu semarang hanya di kenal di Tahu Pong,Tahu Gimbal, Loenpia, Bandeng presto, wingko babat, RM OEN, dsb, dan kalo mencari kawasan kuliner hanya sebatas di simpang lima dan Jl. pahlawan namun sekarang hampir seluruh masakan dari nusantara, Barat, dan China serta beberapa varians dan content menu seperti nasi goreng,bakmi, ayam goreng atau ayam dsb, dapat di Semarang dan hal tersebut belum termasuk yang ada di mall atau hypermarket yang tumbuh banyak di Semarang

kita melihat bagaimana transformasi dari Jl. Gajahmada yang dulunya hanya ada beberapa pedagang sate Perko ( emperan toko), dan beberapa rumah makan, menjelma menjadi JL. Kuliner, karena dipenuhi oleh berbagai macam tempat makanan, dari Manggala Food Festival,beberapa resto baik bertaraf internasional maupun Lokal seperti Ayam Goreng Lombok Ijo dsb,

Hal serupa juga dapat di temui di sepanjang jalan Pleburan Barat di waktu malam, yang pada masa sebelum tahun 2000an hanya ada 3 penjual makanan, sekarang hampir 30an lebih dan melebar hingga sepanjang jl. Hayam wuruk, singosari, dsb baik berupa tenda maupun tempat semi permanen serta juga berdiri beberapa cafe yang cozy

demikian pula di kawasan tembalang, dari patung kuda & diponegoro, ngesrep timur, prof sudharto, Banjarsari dari jalanan sepi menjadi kawasan kuliner dari kelas tenda hingga resto ada semua dengan beragam pilihan masakan dan menu serta suasana yang menawan hati

hal demikian juga berkembang hampir keseluruh pelosok Semarang dari jalan protokol, utama maupun perumahan akan cukup mudah di temui kawasan kuliner, tempat makan baik tenda ataupun resto, hal inilah yang membuktikan sebuah adagium "bahwa bisnis makanan "matang "tak kan pernah surut, hilang satu tumbuh seribu".